Rangkuman Percikan Filsafat

  1. Manusia dan Dunia
  2. Kesusilaan adalah suatu komponen yang lekat pada kodrat manusia, manusia itu punya cara tersendiri yang berbeda, oleh karena itu kita harus dapat mencari akar dari kesusilaan atau sebaliknya.

    Dalam aliran eksistensialisme, suatu aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya; cara manusia berada disebut “In-der-Welt-sein”, “etre au monde” atau “berada – di dalam – dunia”.  Kata “di dalam” tidaklah menunjuk tempat, melainkan seperti kata air di dalam gelas atau burung di dalam sangkar. Maksudnya, manusia itu merupakan kesatuan dengan dunia.

    Terdapat beberapa visualisasi kesadaran manusia, salah satunya adalah manusia cenderung melihat “Aku” atau diri pribadi dengan realitas sekitarnya, padahal sebenarnya manusia dan dunia adalah suatu kesatuan. Berdasarkan kesatuan ini, Manusia tidak mampu menrealisasikan diri sendiri tanpa merealisasikan dunia jasmani, menjadi manusia artinya memper-isti-wa-kan diri sendiri dengan alam jasmani, sehingga peristiwa manusia sesungguhnya adalah berupa peristiwa alam juga. Meskipun manusia hidup dalam alam jasmani, manusia juga merohanikan alam jasmaninya agar tetap dapat menjunjung tinggi eksistensinya sebagai manusia atau bisa diebut dengan manusiawi.

    Penggabungan manusia dengan alam jasmani memilik berapa corak. Manusia adalah homo oconomicos, artinya saat manusia menurunkan tangannya ke dalam alam jasmani, dia dapat merubah barang-barang sehingga dapat berguna bagi kerhidupan manusia. Namun, kegiatan manusia tidak hanya bersifat ekonomis, manusia juga menrohaniakan diri dalam kegiatan menjasmanikan diri. Hal ini terwujud dengan berdirinya monumen-monumen, kuil-kuil suci, kesusasteraan, musik, dan dalam bentuk kesenian lain. Dari sinilah aspek kulturil atau kebudayaan merupakan wujud eksistensi manusia pada alam jasmani. Manusia hanya dapat mem-budaya-kan diri dengan membudayakan dunia luar. Sebagai wujud proses pem-budaya-an itu maka muncullah dunia baru yang memiliki ilmu pengetahuan, sistem-sitem, adat istiadat, peraturan, undang-undang, dan lain lain yang membuat kehidupan manusia lebih kongkrit.

    Selanjutnya, aspek kehidupan manusia dalam kejasmanian berkembang menjadi aspek peradaban dan tehnik. Manusia memiliki hasrat sehingga barang-barang yang diciptakan tidak hanya barang yang berguna tetapi juga dalam bentuk & ukuran yg lebih optimal, misal, pakaian tidak hanya dipakai untuk menutup badan akan tetapi sebagai hiasan, dll. Dengan adanya fenomena ini maka munculah keaduban atau peradaban. Bentuk peradaban pada diri manusia dicerminkan dari cara-cara pergaulan yang sopan dan halus, pakaian yang baik, tingkah laku yang teratur, dsb, sehingga membuat manusia merasa “comfort” karena memperoleh kemudahan & keenakan. Namun jika manusia itu terbuai dengan rasa tersebut, maka manusia akan jadi materialistis, dia akan hanyut dalam kenikmatan jasmani.

    Dari uraian diatas tampak hubungan antara kesusilaan dan kehidupan manusia di dunia.  Manusia harus memiliki pendirian yang tegas agar didunia jasmani tidak terjerumus. Dalam filsafat eksistensialis,eksistensi atau kehidupan manusia memiliki corak-corak dasar yang disebut eksistensialia. Salah satu corak tersebut adalah hidup juga berisi ketakutan dan keahatiran, sehingga dapat disimpulkan bahwa menjasmanikan diri juga mengandung resiko ketenggelaman.

    Aspek lain dari hubungan manusia dengan dunia jasmani adalah asepek teknik. Manusia tidak dapat dipisahkan dengan alam jasmani, bagaikan ikan dalam air. Manusia memperlakukan alam jasmani ke dalam eksistensinya dengan menjunjung alam jasmani tersebut, sehinga muncul effisiensi yang pada hakekatnya adalah teknik. Unsur teknik nampak pada munculnya tari-tarian dan macam-macam kesenian yang merupakan wujud penggunaan badan manusia.

    Teknik adalah unsur dalam kehidupan manusia tidak terbatas dalam lapangan ekonomi saja. Kesenian, permainan, bahasa, mengatur negara, bahkan hidup keagamaan semua dijalankan dengan teknik. Hubungan teknik dengan kesusilaan dapat dimulai bahwa, teknik dapat membuat status manusia menjadi tinggi, akan tetapi dapat juga merendahkan manusia menjadi budak. Manusia yang hanyut dalam perteknikan dapat menginjak-injak rasa perikemanusian, hal ini tercermin dengan perindustirian modern yang kapitalistis, dimana manusia menlahgunakan teknik sehingga merusak kesusilaan dirinya dan orang lain.

    Kesusilaan harus tetap dilaksanakan dalam kehidupan manusia. Kehidupan tersebut adalah suatu kesatuan dengan alam jasmani, yang mengandung aspek-aspek, antara lain: aspek kebudayaan, ekonomis, peradaban dan teknik. Dalam semua aspek tersebut bergantung pada diri manusi apakah akan melaksanakan atau merusak nilai kesusilaannya.

  3. Timbulnya Kesadaran Moral
  4. Kesadaran moral adakag pangkalan yang menentukan manusia, jika dilihat dari sudut kesusilaan seperti “ein Ruf aus mir und dock uber mich” menurut filduf modern. Hidup dengan perpegang pada keususilaan adalah jawaban yang tepat terhadap kesadaran tersesebut.

    Manusia itu berkembang dari kondisi kesadaran pra-moral ke kesadaran moral. Meskipun ada kondisi dimana manusia memiliki kedewasaan fisik dan intelektual, namun dia tidak mencapai kesadaran moral, kondisi ini bisa dikesampingkan, karena kondisi tersebut bukanlah kondisi yang normal. Kesadaran seseorang berbeda pada tiap individu, hal ini tidak perlu dipermasalahkan, yang penting adalah kesadaran itu muncul. Manusia dalam proses mendapatkan kesadaran itu dimulai dengan mengalami dan merasakan keyakinan yang sangat kongkrit, kongkrit disini adalah jelas antara perbedaan harus dilakukan atau tidak sama sekali. Dengan hal ini membuat parameter wajib yang sebelumnya ada secara mutlak, menjadi sesuatu yang dapat ditawar pemenuhannya, bahkan manusia memberikesan bahwa wajib hanyalah suatu beban belaka. Wajib berarti manusia harus taat, tunduk, patuh dan menyerah kepada sesuatu yangmutlka ketinggiannya.

    Keyakinan pada manusia muncul dari pengertian atas arti diri secara dalam, hal ini terjadi saat manusia mengalami keindahan dimana manusia tertarik pada cita-cita kebaikan pada posisi tertinggi. Proses pengertian dan hidup moral mempunyai permulaan. Manusia yg berad diluar scope kesusilaan tidak dapat menyentuhnya, pada saat manusia tersebut masuk, suatu saat ia dapat menjadi mengeti dan dapat melaksanakannya, bahkan melanggar.

    Kesadaran moral yang muncul pada manusia untuk pertama kalinya memiliki dua kemungkinan dia menerima atau menolak. Jika manusia menerima, maka dia akan menjadi baik seutuh-utuhnya. Manusia apapun profesinya baik ahli dagang, ahli politik dan lain-lain, belumlah baik sebagai manusiajika tidak baik dalam arti kesusilaan. Jika manusia tersebut menolak maka penolakan tersebut membuat di jelek sebagai manusia. Manusia bisa jelek dalam pekerjaannya, bisa juga jelek pada bentuk fisiknya atau apasaja. Tetapi jika ia memiliki moral yang baik, maka ia membuat nilainya sebagai manusi menjadi baik. Yang membuat jadi baik dan buruk bukanlah dilihat dari apa yang dimiliki manusia, melainkan dari seluruh pribadi manusia.

    Permulaan pemilihan merupakan aspek yang fundamental dalam hidup manusia. Tentu saja permulaan pemilihan ini tidak didasari dengan sempurna. Kesadaran manusia atas pemilihan object dan perbuatan yang kongkrit dan tertentu dalam memilih kebaikan total. Pemilihan yang fundamental ini daoat diteruskan menjadi lebih intensif. Pemilihan yang pertama-tama merupakan sebuah pendirian yang menyusul pendirian yang sudah ada sebelumnya sehingga menjadi pangkalan perbuatan baru. Hidup manusia terus mengalir dalam arus perbuatan-berbuatan sehingga manusia berada di dalam situasi moral yang beruba-ubah. Dalam situasi yang selalu berubah-ubah ini, manusia selalu berhadapan dengan sesuatu yang telah dia lihat pertama kali saat kedaran moral pertama kali muncul. Dia meliaht arti yang mutlak dan mendalam dalam hidupnya, ia melihat, dan merasa dia harus menyerah kepada Yang Mutlak. Jika dia berada dalam pendirian pertama yang jelek, maka dia akan cenderung meneruskan kejelekannya. Namu jika dia berada dalam pendirian pertama yang baik, ia akan lebih mudah meneruskannya. Kadang kala kejelekan tersebut muncul akan tetapi tidak secara otomatis  manusia membuat menjadi jelek, justru manusia yang jelek masih selalu dapat bangkit dan menjadi lebih baik selama dia msih tertarik oleh kebaikan. Manusia karena kesalahannya sendiri dapat menjadi “buta susila” atau “tuli susila”, oleh karena hal tersebut manusia wajib berjuang agar tidak terjatuh ke “Verfallenbeit” dengan cara selalu mendengarkan panggilan yang bergemuruh dalam dasar hati nuraninya.

  5. Suara Batin
  6. Kesadaran moral dalam bentuk kongkrit adalah suatu bentuk pengertian yang nantinya dapat kita sebut suara batin. Manusia harus mengerti perbuatannya sendiri, jika ia hendak berbuat sesuatu, ia harus mengerti apa yang ia perbuat bagaimana baik dan buruknya baik sebelum dan sesudah perbuatannya.

    Baik dan buruk disini tidak berarti menyenangkan atau merugikan, terkadang sesuatu yang menyenangkan tetap dilakukan manusia padahal perilaku tersebut adalah perbuatan yang buruk. Suara batin bukanlah sesuatu yang kita ucapkan, karena hanya bergema didalam batin, tidak akan terlihat dan terdengar. Suara tersebut mencoba mengerem tindakan jahat manusia secara perlahan, namun ada kalanya suara batin mencoba melengking. Jika manusia menjadi jahat dan nekat samasekali, suara tersebut dapat padam dalam suatu bindang kesusilaan.

    Suara batin tidak hanya terdengar sebelum melakukan tindakan jahat, suara tersebut juga terdengar saat manusia tersebut melakukan tindakan jahat, suara tersebut terus memperingatkan manusia. Suara batin ini juga tetap muncul setelah manusia berbuat kejahatan, jika kejahatan itu besar, maka suara batin terus mengingatkan, menunjukkan kerendahan apa yang telah dilakukan manusia. Pengalaman ini disebut rasa, padahal sebenarnya rasa itu adalah intuisi. Terkadang orang yang telah melakkukan kejahatan, merasa dirinya tidak pantas sama sekali hidup, merasa sia-sia dan merasa putus asa, dan terkadang seorang bunuh diri sesudah melakukan kejahatan.

    Suara hati atau pengertian yang kongkrit tentang baik untuk dan buruk dalam perbuatan yang konkrit itu adalah ekspresi dari dalam diri kita sendiri. Juka manusia itu ingat bahwa dirinya adalah ciptaan Tuhan, maka suara hati akan terus mengingatkan dan menerangkan bahwa panggilan itu adalah dari Tuhan. Manusia dapat membelok-belokan hidupnya kemana saja oleh karena itu, agar manusiadapat menjadi seharusnya, dia harus tetap berjuang. Kesadaran moral mungkin hanya diajarkan secara teoritis, namun kita harus tetap mengajarkan tentang baik dan buruk melalui pembelajaran dan contoh hidup.

  7. Ikatan yang membebaskan
  8. Salah satu unsur yang sangat fundamental dari kesusilaan adakah wajib. Wajib adalah sesuatu yang melekat pada hidup manusia. Wajib merupakan suatu ikatan dan terkadang merupakan suatu ikantan yang berat. Akan terapi manusia tetap mempunyai pilihan untuk ttidak memilih atau melanggarnya, dengan demikian dia merasa rendah dan hina. Dengan melanggar kewajibannya manusia tersebut menodai kemanusiaannya, apabila  dia mengerti dan menaati kewajibannya, justru dia menjadi bebas, dan menjadi merdeka.

    Menurut Durkheim asal dari wajib adalah dari kelompok masyarakat. Manusia itu adalah seorang, sesuatu dari bagian kesulurahan atau masyarakat. Karena itu apa yang disebut moral atau kesusilaan adalah ikatan dari masyarakat. Dengan demikian jika sebuah individu hanya memburu kepentingan diri sendiri, itu tidak pernah disebut baik, yang menjadi parameter baik dan buruk atau norma adalah masyarakat. Jika sebuah perbuatan jelek dipandang masyarakat sebagai hal yang biasa maka hal tersebut boleh dilakukan, selama masyarakat dapat menerimanya. Teori tersebut tidak dapat dipertahankan, akan tetapi jika kita menolak pendapat Durkheim, kita belum memperlihatkan dasar dari wajib.

    Wajib adalah suatu yang mengikat, akan tetapi juga sesuatu yang memerdekakan. Hanya dengan menerima ikatan wajiblah manusia menjadi luhur, menjadi merdeka dalam arti yang sebenarnya.

  9. Siap sedia untuk kebaikan
  10. Moral atau kesusilan adalah suatu nilai yang sebenarnya bagi manusia, nilai moral atau kesisilaan adalah kesemprnaan manusia sebagai manusisa atau dengan kata lain sebuah tuntuan kondrat untuk manusia. Sebgai manusia haruslah menentukan sikap, tidak hanya untuk jangka waktu tertentu, tapi untuk selamanya. Sikap itu adalah siap-sedia untuk melakukan semua kebaikan.

    Saat manusia menjadi seorang yang dewasa harus memilik pendirian atau cara pendirian terhadap moral dan kesusisalaan, agar dia mampu melaksanakannya dengan baik. Pendirian disini adalah sebuah tekad dari kehendak yang merdeka. Manusia itu memiliki potensi atau kebiasaan yang kita sebut kehendak atau kemauan. Manusia memiliki potensi yang disebut karasa. Dengan karsanya itu manusia harus menetapkan tekadnya terhadao moral atau kesusilaan.

    Kemauan itu bukanlah harapan, melainkan suatu kehendak untuk bertindak sendiri, kehendak untuk menjalankan moral. Bila seseorang berniat, maka dia ada di dalam keadaan siap-sedia, tentu saja siap-sedia memiliki bermacam-macam taraf. Niat atau sikap itu adalah disposisi atau pendirian kehendak, atau lebih baik kita katakan dari seluruh manusia.

    Manusia tidak hanya hidup dalam lingkungan peraturan fisik, akan tetapi manusia harus dapat menjalankan keadilan, bahwa sebgai manusia harus bertindak adil sesuai dengan kodrat.

    Penentuan sikap manusia yang kongkrit harus berasal dari sikap yang permanen yang tetap dan azasi, seperti niat, kesanggupan, dan tekat untuk menjalankan moral dan kesusilaan. Sehingga dapat dikatakan sikap kesiapan yang fundamental tersebut adalah sebuah tekad. Sehingga dengan tekad, manusia mampu melewati seluruh penghalang dalam melaksanakan moral dan kesusilaan.

    Untuk menunjuk sikap dan sifat yang fundamental terhadap kesusilaan, dapat kita gunakan istilah siap-sedia untuk kebnaikan. Manusi terthadap kesusilaan bersifat siap sedia. Manusia harus mampu menentukan sikap dan sifat itu dengan sadar. Bahkan penentuan sikap dan sifat itu perlu dilakukan secara berkali-kali agar makin lama semakin kuat, sebab manusia selalu diancam oleh bahaya untuk kandas atau tenggelam.

  11. Tanggung Jawab
  12. Wajib itu pada dasarnya adalah kebaikan yang harus dibebanknan pada kehendak kita yang merdeka untuk dilaksanakan, artinya kebaikan itu harus dan tidak boleh disangkal. Karena melaksanakan kebaikan adalah tuntutan kodrat dari manusia, jika tidak, maka manusia itu tetap manusia akan tetapi memungkiri kemanusiannya, jadi perbuatannya itu berbuatan menggila.

    Agar manusia dapat memunuhi kodaratnya, manusia harus memiliki sifat dasar untuk melakukan kebaikan. Pendirian mental ini salah satunya adalah aspek bertanggung jawab.

    Bertanggung jawab berati mengerti setiap perbuatannya. Dalam mengerti tersebut dalam memandang bagai subyek memandang obyek baik sebelum berbuat, selama berbuat dan setelah berbuat. Manusia sebagai subyek yang berbuat, dan mengalami perbuatannya sebagai perbuatannya sebagai obyek yang dibuat.

    Manusia mengerti tabiat yang terakhir dari dirinya sendiri secara kongkirt, seperti apakah perbuatannya sudah sesuai dengan kodrat. Sebab manusia pada tiap-tiap tingakannya yang kongkrit mengejar perbuatan kebaikan dan kesempurnaan, yang secara sejati menurut tabiatnya yang terdalam, sehingga manusia dapat menjadi pribadi-rohani. Manusia sadar tuntutan ini sebagai dasar dari rasa tanggung jawab. Tanggung jawab adalah kewajiban menanggung perbuatan yang dilakukan seseorang sesuai dengan tuntutan kodrat manusia. Berani bertanggung jawab berarti berani menentukan, memastikan suatu perbuatan sudah sesuai dengan tuntutan kodrat manusia dan hanya karena itulah perbuatan tersebut dilakukan.

    Kesadaran tentang tanggung jawab berati manusi a sadar akan kemerdekaannya, kemerdekaan untuk memilih antara berbuat atau tidak berbuat. Dalam kesadaran akan tanggung jawab, orang akan sadar akan kemerdekaannya. Orang yang sadar dapat berbuat sesuai yang ia mau. Bila manusia melakukan perbuatan tercela, maka manusia tersebut sadar bahwa perbuatannya itu tidak sesuai meskipun pada akhirnya ia tetap lakukan. Bila manusia melakukan perbuatan yang baik, dengan hal ini, dia mengerti bahwa berbuat adalah satu-satunya jalan untuk setia kepada tuntutan kodrat, namun dia bisa juga tidak berbuat.

    Dalam merasakan tanggung jawab, manusia sadar akan kemerdekaannya, namun, dia tidak boleh bertindak sesuai kehendak, dia hanya boleh menghendaki tindakan-tindakan yang sesuai dengan kodratnya. Sikap tanggung jawab adalah pendirian yang membuat seseorang sanggup menggunakan kemerdekaannya untuk melakukan kebaikan, membuatnya hanya melepaskan perbyatann yang suai dengan kotradnya.

    Bertanggung jawab berati, manusia dengan merdeka menerima keniscayaan kodratnya. Kodrat badani dari manusia menentukan dan menuntut suoaya manusia bersih. Manusia harus benar-benar menghendaki kesusilaan.

    Manusia yang mempunyai rasa tanggung jawab, tentulah akan berdiri tegak dalam mempertahankan dan melaksanakan kesusilaaa. Manusia mempunyai kesadaran tentang tanggung jawab dan akan selalu mamandang perbuatannya dengan teliti dan kepala dingin. Dia akan selalu waspada akan alasan-alasan, akibat, serta penghubung-hubungan atau sangkut-paut dari perbuatannya. Manusia akan berkata bahwa dia bertanggung jawab kepada pembesarnya, kepada keluarganya, dsb, semua alasan-alasan yang terdekat dan tidak dapat dipungkiri. Akan tetapi alasan itu bukanlah alasan terakhir, rasa tanggung jawap tidak mempunyai akar. Alasan yang sesungguhnya berasal dari tuntutan kodrat manusia, yang pada dasarnya berati tuntutan dari Pencipta kodrat itu sendiri, manusia bukanlah yang menciptakan kodratnya, melaikan hanya menerimanya.

  13. Kesalahan Moral
  14. Unsur pokok dalam kehidupan moral adalah kesadaran moral adalah kesadaran tentang kesalahan moral.  Dalam kehidupan manusia dapat terjadi bebagai macam kesalahan, kesalahan tersebut diantaranya kesalahan moral. Tiap-tiap kesalahan adalah berati pelanggaran dan kesalahan moral berbeda dengan kesalahan lain. Dalam lapangan hukum positif, orang yang melanggar secara tidak sengaj, tidak dihukum. namun dalam lapangan moral, pelanggaran hanya terjadi jika seseorang itu mengerti dan berbuat dengan sengaja.

    Menurut Nietzche, rasa bersalah, rasa dosa, adalah sebuah kebohongan, penyakit. Tindakan melukai, menindas, memeras bahkan membinasakan merupakan fungsi dan pelaksanaan hidup dan hal tersebut dianggano wajar. Senghingga manusi tidak perlu sama sekali merasa salah atau dosa. Faham Nazisme dan Fasisme merupakan salah satu contoh nyata pelaksaan teori ini.

    Menurut Max Scheler, rasa bersalah muncul secara kodrati, berasa dari rasa yang amat dalam, rasa yang sangat fundamental, yang muncul dari dasar jiwa. Dengan demikian penyesalan tentang kesalahan itu seolah-olah mengembalikan usia muda dari manusia. Manusia seolah-olah dilahirkan lagi.

    Baik dan buruknya perbuatan manusia tidak bergantung pada pendapat masyarkat. Jahat atau tidak, itu tidak tergantung dari pandangan orang lain. Rasa salah itu semedikian dalamnya dalam intisari pribadi manusia. Satu-satunya yang dapat menerangkan bahwa manusia itu dalam perbuatannya menangkap diri sendiri sebagaimana mestinya, dalam hubungannya dengan realitas yang sebenarnya, terutama dengan Tuhan yang menciptakan. Ada aspek-aspek tertentu dari kemoralan yang tidak dimengerti sehinga manusia melihat tuntutan kodratnya sebagai tindakan wajib yang sesuai tuntutan, bila ia melanggar tuntuan itu maka dia melanggar kodratnya sendiri.

    Manusia mengerti bahwa dia sebagai person tidak bertindak sebagai person. Itulah sebabnya dia merasa rendah, merasa ternoda. Manusia merupakan totalitas, sehingga ia sadar dalam kondisi yang hina akan keluhurannya, dan lantas timbullah cita-cita untuk kembali lagi. Kejadian ini muncul akibat unsur-unsur seperti kesedihan, rasa tidak tenak, rasa malu, dan sebagainya. Tidak cukup dengan ingat akan kewajibannya, tetapi dia harus mau bangkit lagi, seperti kata Max Scheller, dia lahir kembali.

    Hidup manusia adalah sangat kompleks. Kadang-kadang ada manusia yang tidak pernah merasa salah. Hal itu tidaklah wajar, karena tak mungkin manusia tidak pernah salah. Kerapkali ada manusia yang merasa salah akan tetapi terus nekat saja. Itupun tidak wajar, manusia yang baik seharusnya harus selalu sadar akan kelemahan dan kesalahannya. Dia harus terus berjuang hingga kesadaran akan kesalhhannya itu tiap-tiap kali menjadi permulaan kemenangan baru.

  15. Kesusilaan dan Nilai
  16. Kesusilaan berati nilai, menjalankan kesusialaan berati melaksanakan nilai. Manusia adalah makhluk yang perbuatannya berharat mencapai atau merealisasikan nilai. Dan kemoralan adalah suatu sektor atau bidang dari nilai.

    Aristoteles mengatakan bahwa manuasia itu dalam semua perbuatannya, bagaimanapun juga mengejar sesuatu yang baik. Sebab definisi dari baik adalah sesuatu yang dikejar, sesuatu yang dituju. Ada dua macama nilai, nilai yang dikejar sebagai alat atau jalan dan ada nilai yang dikejar karena nilai itu sendiri. Aritoteles mengajarkan bahwa nilai yang sebenarnya atau nilai yang tertinggi bagi manusia adalah nilai dalam taraf kepribadian. Pada diri manusia ada suasana, adalah suasana indera atau suasana sensitif dan suasana personal atau kepribadian. Menurut aristoteles, Inti sari dari manusia adalah person atau pribadi

    Terdapat aliran Epikurisme yang menyatakan, cita-cita yang tinggi dari manusia adalah cita-cita jasmani, yang dilaksanakan melalui dorongan-dorongan indera atau sensisif. Salah satu bentuknya dengan muncul semangat hedonisme atau semangat memburu kenikmatan jasmani.

    Manusia butuh dorongan, karena dorongan itu sudah ditentukan oleh kodrat manusia itu sendiri. Dorongan adalah ekspresi atau kata lain dari sesuatu, dorongan adalah jeritan kodrat dari manusia sendiri. Kodrat manusia itu menuntut kesempurnaan tertentu. Kodrat manusia menuntuk kebajikan-kebajikan yang tertentu.

    Nilai-nilai kejasmanian hanyalah berupa nilai-nilai yang jika dihubungkan dan disubordinasikan terhadap nilai kepribadian manusia. Pada diri manusia terdapat dorongan-dorongan yang berupa dengan dorongan-dorongan yang terdapat dalam dunia tumbuhhan dan hewan. Akan tetapi bersamaan dengan itu, terdapat juga dorongan khusus bagi manusia sebagai makhluk yang berbudi. Jadi harus ada tingkatan pada nilai-nilai tersebut. Bagi makhluk yg tidak mengerti sama sekali atau hanya mengerti pengertian yang terbatas. Nilai-nilai yang demikian itu tidak diperlukan sama sekali. Pandangan yang demikian itu juga tidak mungkin sama sekali. Karena hewan dan tumbuhan tidak mempunyai pandangan sedikitpun.

    Manusia memiliki kehendak yang merdeka. Manusia tidak ditentukan oleh kodratnya. Perbuatan hewan adalah sesuatu yang dilepaskan. Manusia sendirilah yang melepaskan. Dengan merdeka dia bisa melepaskan atau tidak melepaskan perbuatannya. Dialah yang memilih. Manusia harus menentukan pilihannya menurut pengertiannya itu. Nilai yang hanya bisa merupakan alat, tidak boleh dipilih dan dijadikan tujuan.

    Manusia harus dibedakan nilai alat dan tujuannya. Nilai tujuannya adalah kesempurnaan pribadi manusia. Nilai-nilai lainnya, yang hanya memuaskan atau menolong kejasmanian manusia, adalah nilai alat dan bukan nilai tujuan. Agar supaya perbuatan manusia tidak menjadi kegila-gilaan, maka nilai alat harus tetap nilai alat tidak boleh dijadikan nilai tujuan. Yang merupakan tujuan hanyalah kesempurnaan pribadi atau person.

  17. Ke-Tuhanan dan kesusilaan
  18. Ketuhanan merupakan dasar dan tujuan dari kesusilaan. Tanpa adanya ketuhanan tidak mungkin ada kesusilaan yang betul-betul berkembang.  Jika kita lihat dari sejarah filsafat, nampaklah bahwa orang berfikir tentang kesusilaan, di situ terlihat juga orang mencari fundamental  atau dasar yang lebih tinggi dari pada manusia sendiri. Memang yang disebut kesusilaan pada hakekatnya merupakan perkembangan sejati dari kesusilaan. Kesusilaann adalah tuntunan kodrat. Tidak menghendaki kesusilaan berarti “memperkosa kodrat”. Dengan demikian nampaklah bahwa kodrat adalah dasar dari kesusilaan. Itu sebabnya kesusilaan selalu dihubungkan dengan tuhan.

    Anaximandros misalnya, seorang filsuf yunani kuno yang hidup lebih dari lima ratus tahun sebelum masehi, mengajarkan pada kita bahwa seluruh alam akan berevoluis pada kehancuran. Mengapa demikian ? karena segala sesuatu harus mengalami denda dan hukumannya, hukuman karena selalu melanggar keadilan. Yang ktia kutip di atas ialah bahwa dunia ini penuh dengan ketidak adilan, dan ketidak adilan itu patut untuk dihukum. Jadi bagaimanapun juga disini diakui adanya hukum yang lebih tinggi, hukum yang tak terlihat, hukum yang ada di atas alam semesta.

    Mengutip dari pengarang ternama dari Afrika Aurelius Agustinus yang mengatakan bahwa, dengan berpikir manusia dapat menemukan petunjuk jalan untuk dirinya sendiri, dengan demikian maka jalan itu bersumberkan pada Tuhan itu sendiri.

    Suara batin adalah pengertian yang mengatakan bahwa perbuatan merupakan pelaksanaan atau pelanggaran kesusilaan, bahwa suatu perbuatan adalah boleh atau tidak boleh. Suara batin dasarnya adalah suara dari Tuhan. Manusia menyadari macam-macam keadaan dari diri sendiri, berfikir, merasa, mengerti. Dalam kesadarannya itu termuat juga suara batin, artinya kesadaran tentang baik atau buruknya perbuatan. Hal itu adalah unsur yang terdasar, yang tak dapat dipungkiri.

    Bila manusia betul-betul tunduk kepada suara batin, maka makin lama dia akan mengerti kesempurnaan dan kebaikan. Dalam gerak-gerik suara batin kita, dalam peringatannya, dalam nasehatnya, dalam kecamannya, manusia sebetulnya dengan kepercayaanya berhadapan dengan Yang Maha tinggi akan merasa menyesal tentang dosa. Dalam menyesal manusia mengakui kesalahannya, dan manusia menemui hidup baru.

    Pelaksanaan kesusilaan dipandang sebagai pelaksanaan cinta kepada Tuhan, sedangkan melanggar moral sama dengan melanggar cinta itu. Moral atau kesusilaan pada dasarnya berhubungan dengan Tuhan. Tuhanlah yang menjadi dasar kesusilaan.

    Adanya dorongan dan keharusan untuk berbuat susila, merupakan tanda bahwa manusia itu tidak sempurna, bahwa dia berada diatas kekuatannya sendiri, jadi bahwa manusia itu adalah ciptaanNya. Karena ciptaan, maka manusia memiliki kemiripan terhadap Penciptanya, meskipun jauhnya tak terhingga. Bertindak asusila hakekatnya berati melaksanakan dan menjalankan diri sebagai ciptaan Tuhan, agar supaya makin dekat kepada Tuhan.

  19. Mencari arti hidup (sebagai wajib asasi manusia)
  20. Kesusilaan itu pada dasarnya adalah perkembangan yang sewajarnya dari kodrat manusia. Manusia bisa berkembang secara superior dalam bidang lain, akan tetapi jika ia tidak susila, maka semua itu tidak akan bernilai atau berharga.

    Manusia harus melaksanakan kesusilaan. Dia harus melakasanakan dalam hidupnya sebagai pribadi dan hidupnya sebgai makhluk sosial. Dia harus mampu membedakan antara etik kepribadian dan etik sosial. Keduanya tidak terpisah-pisah, keduanya boleh saling bertentangan tetapi tidak dapat dipisahkan bagai dua buah sudut dari suatu barang.

    Manusia adalah makhluk yang mempunyai keistimewaan, salah satunya dia menangkap dirinya sendiri. Artinya manusia mengerti akan arti dari berada dan hidup manusia. Pada manusia, untuk memenuhi nafsu-nafsu, menenuhi aspek ini, atau aspek dari manusi a, sesuai dengan arti hidupnya.

    Kerap kali manusia mengambil sikap yang tidak sewajarnya. Dia menghindarkan diri dari pertanyaan tentang ada dan hidup. Hal ini sangat nampak di dunia barat. Manusia takut akan pertanyaan-pertanyaan yang mendalam tentang hidup dan mati. Maka untuk menidurkan suara dari jiwanya itu, dia menghanyutkan diri dalam arus kehidupan yang serba senang. Hanyut dalam macam-macam kenikmatan jasmani.

    Manusia harus berani mencari kebeenaran atau jika sudah memilik jawaban, manusia harus mencari pertanggung jawaban atas miliknya. Manusia juga harus berani mengadakan konfrontasi antara pandangan hidupnya dengan berbagai pendapat-pendapat baru. Jika manusia telah memili pegangan, maka dia harus membangun hidupnya dengan pandanganya itu.

    Manusia harus mencari jalan yang konkrit untuk melaksanakan moral yang sesempurna—purnanya. Janganlah puas dengan milik rohaninya dengan hanya berdasarkan alasan karena tradisi. Sifat demikian adalah bertentangan dengan perkembangan jiwa dan intelektulitas. Orang dewasa, terutama orang intelektual tidak boleh hidup berdasarkan keyakinan kanak-kanak. Sikap demikian itu tidak akan tahan uji terhadap macam-macam aliran dan praktek-praktek yang akan kemudian menentangnya.

    Manusia mengerti, manusia menangkap dirinya sendiri. Dan dalam tangkapan itu timbullah pertanyaan tentang diri sendiri dan arti hidupnya. Adalah wajib manusia menyadari penyataan ini dengan sungguh-sungguh mencari jawaban sebenar-benarnya. Hanya dengan dasar itulah dia dapat membangun kesusilaan yang sempurna.

  21. Keheningan budi (sebagai sikap dasar)
  22. Keheningan budi adalah kata yang menggambarkan suatu sikap azasi dari manusia-susila. Manusia hanya dapat menjalankan hidupnya dengan mmempersatukan diri dengan dunia jasmani. Hidup manusia dia ini tak bisa pikir tanpa kesatuannya dengan alam jasmani. Bersatu dengan alam jasmani, itulah hidup manusia di dunia ini. Tetapi bersama dengan itu mahasiswa juga melebihi atau mengatasi sifat dunia.

    Manusia tidak hanya menghadapi hidupnya, manusia juga sadar, bahwa hidup haris baik, sesuai dengan ketinggian kodratnya. Dan kesadaran ini bukanlah hanya kesadaran. Kesadaran itu berupa dorongan juga. Bila manusia sanggup dan selanjutnya bersedia untuk melaksanakan dorongan tadi, disitu mulailah kemoralan. Sikap ini adalah azasi, yang terdalam.

    Sikap ini masih harus menjadi lebih kuat dan dalam pelaksanaannya, masih harus menjelma dengan mengadakan sikap-sikap yang lebih terang, yang lebih kongkrit. Sikap-sikap yang menjadi konkretisasi atau penjelmaan sikap yang pertama itu ada yang lebih azasi atau lebih praktis.

    Manusia menghendaki rasa tertarik tadi dan perbuatan yang masih hasrus dilakukan, akan tetapi sudah semenarik itu. Kodrat manusia melaksanakan perbuatan lahir, belumlah sampai kebentuk yang jelas. Maka dari sebab itu rasa tertarik dan niat itu adalah titik dalam proses pembuatan manusia. Titik tersebut kita kenal dengan titik pertimbangan. Dengan niat, manusia kerapkali menjadi bimbang, bimbang karena melihat resiko-resiko yang mungkin melekat kepada perbuuatannya. Sebenarnya perbuatan manusia itu terlalu mempunyai sifat kepetualangan. Inilah sebabnya manusia sudah mengadakan niat karena tertarik dengan menimnbang-nimbang, yang disebit penimbangan sebenarnya adalah proses manusia memandang-mandang perbuatannya, yang masih dalam proses perbuatan. Dalam perbuatan manusia kita dapat bedakan perbuatan dan isinya. Dua hal tersebut merupakan satu kesatuan. Dalam menimbang kita mencari pengertian yang tajam tentang kesatuan itu, sebab tanpa pengertian, manusia tidak dapat bertindak. Karena itu manusia harus mencari pengertian yang cukup.

    Selama orang bisa menimbang-nimbang. Pro dan kontra, untung dan rugi selalu tetap terlihat. Manusia sendirilah yang pada suatu saat menghentikan penimbanganyya. Penghentian ini dapat kita sebut sebagai keputusan dan keputusan itu berupa pemilihan. Keputusan yang berupa pemilihan yang menetapkan itu hanyalah suatu titik dalam proses perbuatan manusia. Titik terakhir ini adalah pelaksanaan. Perbuatan manusia adalah satu hal dan kesatuan. Akan tetapi kesatuan itu hanya terjadi dalam dan dengan berproses. Kita dapat melihat struktur atau bentuk dari proses tersebut  dengan menunjuk titik-titiknya. Manusia hanya bertanggung jawab mengenai perbuatan yang selesai sama sekali. Manusia juga bertanggung jawab tentang tiap-tiap titik dari perbuatannya.

    Keheningan budi dan hati adalah sikap-aktif manusia, dengan mana manusia meneliti dan mengarahkan seluruh proses perbuatannya ke arah kesusilaan, sesuai dengan tuntutan kodratnya. Dari sudut pandang moral berbuat, berarti harus mengarakan diri pada pelaksanaa moral, bahwa tiap-tiap perbuatan manusia itu harus bermoral.

    Manusia denganmudah memiliki rasa tertarik, oleh karena itu rasa ini harus dikontrol. Kontrol ini dapat dilakukan melalui proses pengawasan. Tujuannya adalah menghindarkan perusakan moral, untuk melaksanakan ini diperlukan keheningan budi dan hati. Obyek perbuatan harus diteliti benar-benar. Semua ini adalah tugas dari keheningan budi dan hari. Kadi keheningan budi dan hati itu mirip dengan pemimpin pertempuran. Pemimpin tempuran mempin operasi. Keheningan budi dan hati memimpin perbuatan manusia.

    Manusia harus menanam sikap ini dalam hidupnya. Bila sikap ini berkembang, maka banyaklah buahnya. Kewaspadaan, berhati-hati, bersiasat, membuat perhitungan sebelumnya, semua itu adalah buah dari keheningan budi dan hati.

  23. Dialetik dari keheningan budi
  24. Sikap azasi dari manusia yang menyebabkan manusia menjadi susila dan bertindak susila, adalah sangat kompleks. Aspek kompleks tersebut adalah keheningan budi. Keheningan budi itu tidak mudah. Tidak mudah, karena keheningan budi berarti menguasai diri sendiri. Tidak mudah karena dalam menjalankannya orang harus mengerti ukuran yang tidak bisa diukur. Taraf keheningan budi juga dapat disebut kemasakan atau kematangan.

    Setelah tahap penelitian dan penimbangan langkah selanjutnya adalah memutuskan. Keputusan tidak datang sendiri. Keputusan harus diambil, dan ini berati memutuskan. Memutuskan ketepatan dan kebijaksanaan keputusan yang bersumberkan keheningan hati. Keputusan itu diambil dengan merdeka. Selanjutnya, keputusan tersebut memuat keseimbangan yang artinya dengan mengingat hal-hal yang bersangkutan dengan perbuatan yang dilahirkan. Tujuan baik hanya dapat menyebakan perbuatan yang baik, jadi dapat dipertangung jawabkan menurut kesusilaan, jika jalan yang ditempuh baik juga.

    Keputusan yang bijaksana dapat juga kita sebut pikiran sehat. Jadi yang sebaliknya ialah pikiran yang tidak sehat. Pikiran bisa tidak sehat, tidak karena kekurangan penelitian, atau kepincangan dalam menimbangnya, melainkan karena semua penimbangan dengan sengaja ditunjukan ke arah yang tidak susila.  Langkah selanjutnya dari keheningan budi adalah keteguhan dan keuletan. Dengan jatuhnya keputusan, perbuatan belum tentu berlangsung, kerapkali sesudah keputusan ditetapkan, bersalah keberatan-keberatan. Kerapkali orang sudah puas dengan cara yang berlebih-llebihan.

    Antara keputusan dan saat pertama dari perbuatan ada perbedaan. Memutuskan belum dengan sendirinya berati memulai, meskipun kerapkali antara dua itu tidak terlihat jaraknya. Dengan kata lain, disini tampak, bahwa dengan keputusan belum selesailah tugas keheningan budi. Keheningan budi itu mengatur seluruh perbuatan dalam seluruh prosesnya. Keputusan akan menjadi sia-sia, jika keheningan budi tidak dapat meneruskan pekerjaanya dengan menghadapi kesukaran-kesukaran yang timbul justru karena kerapkali mengancam dengan kesia-sian.

    Secara teoritis tak mungkinkah kita tetapkan manakah saat yang baik itu. Sebab baik atau tidaknya tergantung dari macam-macm faktor yang kongkrit. Dan kecuali dari faktor-faktor diluar manusia, juga dari keadaan manusia sendiri.

    Titik permulaan itu ditentukan juga oleh keheningan budi. Titik yang terkhir merupakan yang tersulit. Disinilah letaknya “to be or not tobe” dari perbuatan.  Dialektik yang digambarkan tampak jika manusia menghadapi perbuatan-perbuatan yang penting. Dialektik itu tidak lain adalah perbuatan manusia sebgai perbuatan.

    Manusia itu tidak bergerak seperti mesin. Dia mengeri bahwa dia berbuat, dia mengerti perbuatannya. Proses perbuatannya berada pada tangannya. Dan manusia wajib memilik pendirian dan sikap agar selalu dapat mempertanggung jawabkannya.

lumayan menuh-menuhin blog :hammer:



Related posts:

blog comments powered by Disqus
me Fatto/akhmad syafii
22 years old, post-graduate student, currently pursuing his master degree at Tenth of November Institute of Technology, spending most of his time surf the internet, try to find some money to pay the bills.
  • Lihinpark: jket yang desin 3 brapa ya mas.........
  • Drixmix_16: boleh Pesan ?...
  • soerya: medeni :p...
  • bnu: apa udah framework nya gan??...
  • Rino_blue07: mau dong.kirim ke tangerang berapa???...
  • tomy: berapa bos harga satuanya...
  • fatto: silahkan datang ke perpus PENS :D...
  • fatto: iya gan itu udah lama bangetlink...
  • fatto: kalo di web sudah ngarah ke cloud-comput...
  • fatto: maklum gan artikel copas :malu:...