- Manusia dan Dunia
Kesusilaan adalah suatu komponen yang lekat pada kodrat manusia, manusia itu punya cara tersendiri yang berbeda, oleh karena itu kita harus dapat mencari akar dari kesusilaan atau sebaliknya.
Dalam aliran eksistensialisme, suatu aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya; cara manusia berada disebut “In-der-Welt-sein”, “etre au monde” atau “berada – di dalam – dunia”. Kata “di dalam” tidaklah menunjuk tempat, melainkan seperti kata air di dalam gelas atau burung di dalam sangkar. Maksudnya, manusia itu merupakan kesatuan dengan dunia.
Terdapat beberapa visualisasi kesadaran manusia, salah satunya adalah manusia cenderung melihat “Aku” atau diri pribadi dengan realitas sekitarnya, padahal sebenarnya manusia dan dunia adalah suatu kesatuan. Berdasarkan kesatuan ini, Manusia tidak mampu menrealisasikan diri sendiri tanpa merealisasikan dunia jasmani, menjadi manusia artinya memper-isti-wa-kan diri sendiri dengan alam jasmani, sehingga peristiwa manusia sesungguhnya adalah berupa peristiwa alam juga. Meskipun manusia hidup dalam alam jasmani, manusia juga merohanikan alam jasmaninya agar tetap dapat menjunjung tinggi eksistensinya sebagai manusia atau bisa diebut dengan manusiawi.
Penggabungan manusia dengan alam jasmani memilik berapa corak. Manusia adalah homo oconomicos, artinya saat manusia menurunkan tangannya ke dalam alam jasmani, dia dapat merubah barang-barang sehingga dapat berguna bagi kerhidupan manusia. Namun, kegiatan manusia tidak hanya bersifat ekonomis, manusia juga menrohaniakan diri dalam kegiatan menjasmanikan diri. Hal ini terwujud dengan berdirinya monumen-monumen, kuil-kuil suci, kesusasteraan, musik, dan dalam bentuk kesenian lain. Dari sinilah aspek kulturil atau kebudayaan merupakan wujud eksistensi manusia pada alam jasmani. Manusia hanya dapat mem-budaya-kan diri dengan membudayakan dunia luar. Sebagai wujud proses pem-budaya-an itu maka muncullah dunia baru yang memiliki ilmu pengetahuan, sistem-sitem, adat istiadat, peraturan, undang-undang, dan lain lain yang membuat kehidupan manusia lebih kongkrit.
Selanjutnya, aspek kehidupan manusia dalam kejasmanian berkembang menjadi aspek peradaban dan tehnik. Manusia memiliki hasrat sehingga barang-barang yang diciptakan tidak hanya barang yang berguna tetapi juga dalam bentuk & ukuran yg lebih optimal, misal, pakaian tidak hanya dipakai untuk menutup badan akan tetapi sebagai hiasan, dll. Dengan adanya fenomena ini maka munculah keaduban atau peradaban. Bentuk peradaban pada diri manusia dicerminkan dari cara-cara pergaulan yang sopan dan halus, pakaian yang baik, tingkah laku yang teratur, dsb, sehingga membuat manusia merasa “comfort” karena memperoleh kemudahan & keenakan. Namun jika manusia itu terbuai dengan rasa tersebut, maka manusia akan jadi materialistis, dia akan hanyut dalam kenikmatan jasmani.
Dari uraian diatas tampak hubungan antara kesusilaan dan kehidupan manusia di dunia. Manusia harus memiliki pendirian yang tegas agar didunia jasmani tidak terjerumus. Dalam filsafat eksistensialis,eksistensi atau kehidupan manusia memiliki corak-corak dasar yang disebut eksistensialia. Salah satu corak tersebut adalah hidup juga berisi ketakutan dan keahatiran, sehingga dapat disimpulkan bahwa menjasmanikan diri juga mengandung resiko ketenggelaman.
Aspek lain dari hubungan manusia dengan dunia jasmani adalah asepek teknik. Manusia tidak dapat dipisahkan dengan alam jasmani, bagaikan ikan dalam air. Manusia memperlakukan alam jasmani ke dalam eksistensinya dengan menjunjung alam jasmani tersebut, sehinga muncul effisiensi yang pada hakekatnya adalah teknik. Unsur teknik nampak pada munculnya tari-tarian dan macam-macam kesenian yang merupakan wujud penggunaan badan manusia.
Teknik adalah unsur dalam kehidupan manusia tidak terbatas dalam lapangan ekonomi saja. Kesenian, permainan, bahasa, mengatur negara, bahkan hidup keagamaan semua dijalankan dengan teknik. Hubungan teknik dengan kesusilaan dapat dimulai bahwa, teknik dapat membuat status manusia menjadi tinggi, akan tetapi dapat juga merendahkan manusia menjadi budak. Manusia yang hanyut dalam perteknikan dapat menginjak-injak rasa perikemanusian, hal ini tercermin dengan perindustirian modern yang kapitalistis, dimana manusia menlahgunakan teknik sehingga merusak kesusilaan dirinya dan orang lain.
Kesusilaan harus tetap dilaksanakan dalam kehidupan manusia. Kehidupan tersebut adalah suatu kesatuan dengan alam jasmani, yang mengandung aspek-aspek, antara lain: aspek kebudayaan, ekonomis, peradaban dan teknik. Dalam semua aspek tersebut bergantung pada diri manusi apakah akan melaksanakan atau merusak nilai kesusilaannya.
Continue reading “Rangkuman Percikan Filsafat”